Missed Connection

Belakangan aku ketahui, senjata yang lebih mematikan daripada bom nuklir sekalipun, adalah senyum yang dihadiahkan tanpa keraguan.

Agaknya saat itu semesta tengah mati kebosanan hingga ia memutuskan untuk bermain-main dengan dua manusia random yang sedang berjalan berlawanan arah di trotoar basah yang menguarkan bau hujan, pada hari minggu, di pinggiran kota yang penuh sesak oleh pejalan kaki dan deru kendaraan yang menyakitkan gendang telinga.

Mataku masih terpaku lekat pada buku yang sejak turun dari bus tadi masih kubolak-balik halamannya, aku berjalan sambil komat-kamit, menghindari orang-orang yang berjalan berlawanan arah tanpa kesulitan. Kata Ibu, itu adalah bakat yang telah ku asah sejak kecil, berjalan sambil membaca, lebih tepatnya, melakukan apapun sambil membaca.

Aku telah berada di paragraf terakhir halaman 512 ketika ekor mataku menangkap sebuah bayangan, aku menengadah, pada saat yang bersamaan lelaki itu memalingkan wajah dari telepon genggamnya, menatapku.

Ia berhenti selama sekian milidetik, tersenyum tanpa aba-aba, kemudian melanjutkan perjalannya kembali segera setelah aku tersadar dan membalas sapaan tersiratnya.

Semesta ini lucu, pikirku sambil menggelengkan kepala, kemudian aku mempercepat langkah sambil mendekap buku di dada, yang saat ini berdebar bak kesetanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s