Enam Ratus Delapan Puluh Delapan

Untuk sesaat aku terlampau congkak, memekikkan ke telinga seisi alam bahwa lagu ini, yang aku mainkan nada demi nada nya bersamamu ini, adalah lagu terbaik yang kita komposeri bersama.

Aku menengadahkan dagu penuh keangkuhan, dilempari sanjungan yang tak henti-henti nya mengembangkan lubang hidung. Sampai kemudian lagu ini tak lagi terdengar sama.

Tak lagi bernada gembira, dengan tempo cepat dan menggebuk-gebuk gendang telinga pendengarnya, temponya perlahan turun dengan denting-denting yang menyayat hati. Yang lebih menyakitkan adalah kita yang tetap berpegang pada instrumen masing-masing, membolak balik partitur di hadapan kita, menatap penuh kebingungan, tak punya pilihan lain selain tetap memetik dawai.

Yang paling kejam adalah, komposer yang tak kasat mata itu seolah tak peduli, ia tetap menggerak-gerak kan tangan memberi aba-aba, seakan memberi pelajaran akan keangkuhan kita. Juga para pendengar yang tetap riuh bertepuk tangan tanpa mempedulikan sang pemain musik yang telah basah pipinya.

Aku dengan dungu nya menangisi enam ratus delapan puluh delapan hari yang rasanya percuma. Beratus hari setelah masa ini, kita komposeri rhapsody kita sendiri, janjimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s