Lelaki Bermata Satu

Kepada, Lelaki Bermata Satu…
Aku kembali terjebak di sini, di kereta Taksaka malam yang akan membawaku dari Jakarta ke Jogja. Persis seperti dulu, entah dua atau tiga tahun yang lalu, hanya saja saat itu aku terjebak bersamamu.

Masih lekat di kepalaku bagaimana awalnya aku menatapmu yang duduk di hadapanku dengan penuh rasa ingin tahu, bagaimana cerita dibalik mata kananmu yang dibalut dengan perban putih itu, atau cerita didalam carrier hitam besar yang baru saja kamu lepas dari punggungmu. Kamu lalu mendongak tepat menghujam satu matamu ke arahku, seakan mendengar pertanyaan-pertanyaan yang hanya ku ucap dalam kepalaku, lalu kamu tersenyum.

Aku tak dapat mengingat awalnya, yang ku ingat kita berbincang layaknya teman yang sudah lama tak berjumpa, berbincang perihal tempat-tempat yang telah kamu jelajahi, yang bahkan belum pernah kudengar namanya, “mungkin di masa sebelum ini kita saling mengenal” ujarmu lirih hampir tak terdengar, aku tertawa.

“tak perlu dua mata untuk mengetahui keindahan dunia, kamu harus mencobanya sesekali” kata terakhirmu sebelum kamu kembali memikul carriermu dan berjalan keluar dari kereta.

Hai lelaki bermata satu, yang dulu berbagi pengalaman hidupnya denganku, namun baru-baru ini kusadari kita tak pernah bertukar nama. Semoga suatu hari nanti kita berjumpa kembali, saat itu, aku tidak akan mendengarkan petualanganmu saja, akupun kini memikul carrier yang serupa dengan milkimu, menyusuri dunia yang dulu kamu deskripsikan indah luar biasa, terima kasih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s