Enam Ratus

Aku mulai terbiasa mengecap bulir-bulir air asin yang sedari tadi berterbangan siap membumbung menguap sembari tetap duduk memeluk lutut, memandang laut dengan takut-takut. “Pengecut” ujarmu dari samudera, dengan senyum khas yang memamerkan lekuk kecil di sudut bibir kananmu.

Aku telah belajar berdamai dengan banyak hal yang kutakuti sejak enam ratus hari belakangan ini. Kilatan matamu, yang lebih enam ratus hari lalu masih ku pelajari dengan ragu-ragu, senyummu yang lebih enam ratus hari lalu masih ku sumpahi sebab pesonanya, dan genggaman tanganmu yang lebih enam ratus hari lalu masih tak berani ku tangkap maknanya.

Aku mendapati jemariku menyusuri lenganmu, mencari pasangannya, mulai mengepak-ngepakkan kakiku kesetanan, dalam bentangan air berwarna biru pekat yang menakutkan itu. “Aku disini” katamu sambil mengunci jemariku.

Enam ratus hari, aku bukan gadis pengecut yang dulu lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s