Nosiseptor

Aku tak lagi sama dengan gadis yang beberapa putaran lunar lalu selalu bersimpuh lutut, menangis meraung pada ibu bumi, tiap kali semesta mempersonifikasi segala ornamennya menjadi siluetmu. Tulang-tulang punggungku kini telah mampu kembali menyangga tubuhku dengan mantap, bibirku telah kembali belajar merekah membentuk sesimpul senyum, daguku telah lebih kokoh terangkat beberapa sentimeter dari dada, dan mataku, mataku tak lagi memuntahkan airnya.

Aku telah lebih dulu melepas balutan yang beradhesi sangat erat dengan hatiku, yang dulu kata mereka bisa menyembuhkan lukaku. Luka yang dulu menganga itu kini telah berevolusi menjadi jaringat parut, tak begitu nyeri, namun tak akan pernah sama lagi. Kini aku mengerti, Tuhan mungkin menciptakan hati beserta nosiseptor yang lebih banyak daripada organ lainnya, agar ia mampu mengirim lebih banyak persepsi ke sela-sela otak, agar ia lebih merasai nyeri, alih-alih langsung mati tanpa terobati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s