Lima Ratus Sepuluh

Jika di kemudian hari aku tak lagi dapat merasaimu, setidaknya biarkan aku saat ini merekam segala mengenaimu dalam memoriku yang tak seberapa besar ini, dikode dengan apik oleh hipokampusku, dan disimpan di bagian terdalam korteks temporal di otakku sebagai memori eksplisit jangka panjang, yang kuyakini akan menggerayangiku sewaktu-waktu.

Segalanya, mata kecilmu yang tak pernah jengah membaca polahku, yang kemudian selalu membuatmu tergelak lalu mengecup pipiku, atau sekedar mencubitku dengan gemas.

Lengan-lengan besarmu yang dengan mudahnya melingkari bahuku dalam satu rentangan, seakan mengatakan semua akan baik-baik saja, tiap aku berteriak berang ketika Manchester United tumbang.

Suaramu yang menggemakan ucapan selamat malam dari jarak beribu kilometer yang sampai pada daun telingaku lalu menggetarkan bukan hanya gendang telinga namun juga air di pelupuk mata yang sudah memberi aba-aba untuk segera tumpah, detik berikutnya bulir-bulir itu jatuh berlomba-lomba.

Jika di kemudian hari Tuhan memanggilku untuk pergi dan tak kuasa untuk kembali, meninggalkanmu sendiri tanpa ada lagi ucapan selamat pagi dan kecupan di setiap hari, tulisan-tulisan ditempat ini yang akan menjadi saksi, bahwasanya aku dan kamu tetap abadi.

Jika ternyata Tuhan pada akhirnya tidak mengisahkan aku denganmu, setidaknya hingga kini aku memiliki lima ratus sepuluh hari paling bahagia selama dua puluh satu tahun kehidupanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s