Empat Ratus Lima Puluh

Kepala ini tak akan pernah lelah memuntahkan kata untuk menjelma rasa menjadi frasa yang lalu di kemas sempurna dan dipersembahkan tepat saat singsingan sang surya.

Aku tak pernah lupa…

Ketika rasa itu datang tiba-tiba merasuki hati yang sama-sama tengah terluka. Aku menyela, kamu menunda, kita sepakat itu hanya sementara. Namun ternyata rasa itu tak ingin pergi, kita mulai saling mencari hingga kini tak ingin ke lain hati.

Untuk segala suka. Ketika aku dan kamu menyanyikan nada yang sama untuk tim berbeda yang kita bela, “20 times 20 times Man United” yang selalu kamu sela dengan “49 49 undefeated”. Atau ketika kita tertawa lepas bahagia hingga orang lain menyipitkan mata. Kemudian kita sadari kita tak ingin berpindah lagi.

Untuk segala luka. Ketika emosi menguasai diri hingga kita saling mengutuki. Atau ketika lelah menghampiri hingga kita saling memunggungi. Kemudian luka itu tersapu begitu saja mengingat kita saling mencinta.

Melalui altar sang fajar aku mengujar bertubi-tubi ucapan terima kasih, untuk empat ratus lima puluh hari kita mendewasa bersama.

Dan melalui hujan perseid pagi ini aku haturkan pinta kepada Aphrodite sang dewi cinta, agar kisah kita berlanjut bahagia layaknya Perseus dan Andromeda.

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s