Tiga Ratus Sembilan Puluh

Aku tak akan mengutuki jarak. Pun sebelumnya aku terpisah berpuluh-puluh kilometer jauhnya darimu, puluhan ribu kilometer tak akan membuat apapun menjadi berbeda.

Aku tak akan menangisi situasi ini, yang tidak memungkinkan untuk kita beradu argumen secara langsung, seperti yang hampir setiap hari kita lakukan. Karena bahkan dari jarak sekian ribu kilometer inipun tak ada yang menjadi penghalang bagi kita untuk membicarakan apa-apa yang terlintas di kepala, saling membantah hingga salah satu dari kita mengalah. Perihal banyak perkara yang kemudian secara implisit di akhiri dengan doa, agar segalanya baik-baik saja.

Aku tak akan terlalu banyak mengeluh mengenai kamu yang tak ada di sini, karena setiap detil darimu telah ter-rajam permanen di hippocampus ku. Yang kemudian kerap meletup-letupkan impulsnya melampaui setiap neuron hingga membentuk bayang nyata kurva dan setiap sudut dirimu yang dipersembahkan dengan apik melalui mimpi yang setiap lelap mendatangi.

Betapapun seringnya aromamu ku hidu, tampaknya tak ada satupun yang dapat menggantikan setiap sentuh, setiap kecup, dan setiap rangkul. Pada akhirnya,betapa kerasnya pun aku berusaha, aku tetap merindukanmu.

Selamat menikmati kebersamaan di purnama ke tiga belas dalam jarak sekian puluh ribu kilometer, Tweety. Don’t you worry about the distance, cause we’re still looking at the same side of the moon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s